Langsung ke konten utama

Bisnis Bukan Kontes Populatitas

Ilustrasi 
Belakangan ini mindset orang memang sedang demam-demamnya sama yang namanya wirausaha. Bekerja pada sebuah perusahaan atau profesi tertentu bukan lagi cita-cita populer seperti dulu. Kesuksesan finansial yang bisa diperoleh, kebebasan waktu dan segudang hal lain yang bisa didapat dari membangun usaha sendiri telah membuat banyak orang lebih memilih dunia usaha.

Kenyataannya tidak sedikit yang terjebak dengan pola pikir salah tentang menjadi pengusaha. Bermula dengan paradigma yang salah pada akhirnya gulung tikar, bangkrut atau bahkan terlilit hutang. Bayang-bayang keluangan waktu, kebebasan finansial jauh dari harapan.

Presiden IIBF Heppy Trenggono mengungkap kan bahwa sulitnya seorang pengusaha dalam membangun adalah sebuah kehormatan. Hidup ya begitu, penuh kesulitan. Sehingga kualitas seseorang bisa diukur dari seberapa banyak kesulitan yang mampu dan mau diambil. Kualitas hidup seseorang sangat ditentukan bagaimana dalam merespon setiap kejadian/persoalan yang datang. Itulah yang membedakan satu orang dengan yang lainnya.

Bagaimana tidak, kita mendapat kesulitan karena keinginan untuk membangun, sedang ada orang yang tidak melakukan apapun juga mengalami kesulitan. Demikian halnya ada orang yang mati karena membela agama dan bangsanya, namun ada juga yang mati diatas ranjang. Sama-sama mati pilih mana? Demikian pula dengan kesulitan hidup, pasti terjadi, apakah karena sedang mengupayakan sesuatu atau sulit karena berdiam diri saja.

Bisnis itu bukan kontes popularitas, demikian wejangan presiden IIBF dalam pagelaran Silatnas IIBF (5/9) di Tawangmangu, Karanganyar. Dicontohkannya, seorang pengusaha datang kepadanya untuk meminta padangan langkah-langkah yang bisa diambil dalam menyelesaikan kesulitannya. Beliau merasa tidak memiliki tempat bertanya atau sharing karena merasa dirinya sudah terlanjur terkenal atau terlanjur dikenal sukses.
Siapa manusia yang bebas dari kesulitan? Dan banyak generasi sekarang sering dibingungkan dengan hal-hal seperti itu.


Jadi ukuran sebuah bisnis sukses atau tidak bukan dilihat dari seberapa besar rumahnya, seberapa bagus mobilnya, namun sukses membangun bisnis diukur salah satunya apakah bisnisnya menjadi mesin pencetak uang atau tidak, membawa manfaat atau tidak, memberi kontribusi pada kehidupan atau tidak.” pungkas Heppy.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengungkap keinginan konsumen

Ibu Susi, seorang pengusaha di Tanjung Priok - Jakarta yang menekuni produksi sabun cair berbagai jenis menanyakan kepada saya apa strategi yang harus dilakukan agar produk – produkya laku di pasar, pasalnya usaha yang digelutinya selama ini tidak mengalami kemajuan yang berarti setelah beberapa tahun ditekuni. Saat ini beliau sedang menyiapkan produk baru dalam kemasan yang berbeda yaitu sabun cair kemasan 1 liter, pertanyaan beliau kepada saya “apakah langkah saya sudah tepat? Menurut pak Heppy apakah produk ini akan mampu meningkatkan omzet perusahaan saya secara significant?” Inovasi, seperti yang dilakukan oleh Ibu Susi adalah sebuah keniscayaan dalam bisnis, malahan kalau kita hendak menyederhanakan pemikiran, berbicara mengenai fungsi bisnis sebenarnya hanya ada 2 saja yaitu Inovasi dan Marketing. Inovasi harus selalu dilakukan karena pasar selalu bergerak, kompetisi selalu bergerak, dan keinginan konsumen juga selalu bergerak. Kalau Indofood, Wingsfood, Unilever, dan pe...

Bisnis dengan modal 0

B erbicara tentang memulai bisnis, banyak orang langsung terhenti langkahnya karena merasa tidak memiliki modal untuk memulainya. “Saya sebenarnya ingin menjadi pebisnis, tapi saya tidak punya modal” begitulah kira – kira komentar dari rata – rata para pemula yang saya jumpai, dan modal yang dibicarakan disini maksudnya adalah uang cash yang dimiliki untuk memulai bisnis. Dalam konteks yang lain, sebuah angka statistik membuktikan bahwa 50% bisnis tutup sebelum ulang tahunnya yang kedua, 80% tutup sebelum ulang tahun yang kelima. Dan yang sangat menarik untuk dicermati, ternyata salah satu sebab mengapa mereka gulung tikar dalam usia yang sangat muda adalah “Easy Money”, uang dan kredit yang terlalu mudah didapat. Kok bisa begitu? Ternyata easy money membuat pebisnis menjadi bodoh. Dengan uang dan kredit yang mudah didapat mereka memiliki kesempatan yang sangat luas untuk menutupi kesalahan – kesalahan dalam berbisnis. Contohnya ketika sales tidak mencapai target, ketika piutang tid...