Ibu Susi,
seorang pengusaha di Tanjung Priok - Jakarta
yang menekuni produksi sabun cair berbagai jenis menanyakan kepada saya apa
strategi yang harus dilakukan agar produk – produkya laku di pasar, pasalnya
usaha yang digelutinya selama ini tidak mengalami kemajuan yang berarti setelah
beberapa tahun ditekuni. Saat ini beliau sedang menyiapkan produk baru dalam
kemasan yang berbeda yaitu sabun cair kemasan 1 liter, pertanyaan beliau kepada
saya “apakah langkah saya sudah tepat? Menurut pak Heppy apakah produk ini akan
mampu meningkatkan omzet perusahaan saya secara significant?”
Inovasi, seperti
yang dilakukan oleh Ibu Susi adalah sebuah keniscayaan dalam bisnis, malahan
kalau kita hendak menyederhanakan pemikiran, berbicara mengenai fungsi bisnis
sebenarnya hanya ada 2 saja yaitu Inovasi dan Marketing.
Inovasi harus
selalu dilakukan karena pasar selalu bergerak, kompetisi selalu bergerak, dan
keinginan konsumen juga selalu bergerak. Kalau Indofood, Wingsfood, Unilever,
dan pemain – pemain yang sudah besar juga melakukan inovasi dan meluncurkan
produk – produk baru setiap hari mengapa kita tidak?
Sekarang
pertanyaannya adalah apakah produk baru kita akan diterima pasar dan mampu
mendongkrak penjualan kita atau tidak?
Inovasi yang
akan menghasilkan produk yang disukai konsumen adalah inovasi yang terjadi di
pasar, bukan yang terjadi di laboratorium. Saya sering mengatakan bahwa salah
satu kegagalan bisnis adalah karena obsesi kita kepada produk yang akan kita
jual, karena kita terlalu menyukai ide kita, kita menganggap bahwa ide kita
adalah ide yang brilliant. Artinya banyak kegagalan bisnis yang disebabkan
karena produknya sangat disukai oleh kita sendiri tetapi tidak disukai oleh konsumen!
Inovasi yang
efektif adalah inovasi yang merupakan hasil perbincangan kita dengan konsumen,
hasil “conversation” dengan mereka, hasil dari proses untuk mengetahui apa
“keinginan tersembunyi” mereka.
Banyak pendekatan
yang biasa dilakukan oleh perusahaan dalam melahirkan produk dan jasa, untuk mengetahui
customer behaviour dan mendapatkan consumer insight dengan berbagai pendekatan, mulai dari memakai
jasa survey yang sangat mahal, melakukan focus
group discussion sampai dengan metode kuesioner yang banyak kita jumpai.
Begitu pentingnya pekerjaan mengetahui “keinginan konsumen” ini bahkan beberapa
perusahaan memiliki organisasi tersendiri dan anggaran yang sangat besar untuk
urusan ini. Unilever membangun organisasi yang melibatkan 400 Insight Manager
dengan investasi tak kurang dari 300 juta Euro. Lantas, apakah kita juga harus
melakukan dengan anggaran yang begitu besar untuk berhasil? Jawabannya tentu
tidak! Bahkan semua metode yang kita sebutkan di atas tidak menjamin bahwa kita
mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan oleh konsumen. Pendekatan formal
seperti yang saya sebutkan di atas bahkan cenderung melewatkan hal – hal yang
sebenarnya terjadi di lapangan, apalagi jika semua pendekatan formal tersebut
dihubungkan dengan iming – iming insentif yang akan diberikan kepada responden.
Apa yang harus
Ibu Susi lakukan adalah “berbicara dengan konsumen”, Ibu susi harus selalu
memasang mata Ibu, memasang telinga Ibu, dan menghidupkan hati ibu untuk selalu
memantau apapun yang berhubungan dengan keinginan konsumen, motivasi konsumen,
ataupun ketidak puasan konsumen. Melakukan “pembicaraan dengan konsumen” yang
saya maksud adalah melakukan pembicaraan dengan sebenarnya, dengan cara yang
natural, berbicara ketika mereka berbelanja, ketika mereka mencuci, ketika
mereka arisan, ketika mereka mengembalikan produk, ketika mereka mengantarkan
anak di sekolah, apapun intinya ketika mereka dalam situasi natural sehari –
hari, mengamati mereka dalam habitat aslinya. Perusahaan – perusahaan besar di
dunia melakukan hal tersebut, bahkan ada diantara mereka yang menugaskan
Direksinya untuk tinggal selama beberapa
minggu di rumah konsumen untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di
lapangan dan mengetahui keinginan tersembunyi mereka.
Dalam melahirkan
dan melakukan inovasi produk pada salah satu perusahaan saya Balimuda Food yang
memproduksi berbagai makanan seperti mashed
potato merk POTAYO, kripik kentang asli merk DIENG, dan berbagai produk
lainnya yang dikembangkan, data dari lembaga survey saya gunakan pada saat saya
memilih produk pertama kali, pada saat product
invention, terutama untuk mengetahui market
size dan growth-nya, namun
selebihnya saya lebih mengandalkan “conversation with customer”, buat saya
lebih murah, lebih akurat, lebih insightful,
dan lebih menggairahkan karena saya dapat melihat ekspresi mereka ketika mereka
berbicara.
Semakin banyak
kita “berbicara dengan konsumen” semakin kita bisa merasakan kepedihan mereka,
semakin jelas kita mengetahui apa yang diinginkan oleh mereka. Bagaikan melihat
lukisan mozaik, semakin banyak
partikel yang membentuk lukisan tersebut maka semakin jelas bentuk lukisan yang
dihasilkan.
Mengetahui apa
yang diinginkan konsumen bukan pekerjaan mudah, namun juga tidak selalu mengharuskan
penggunaan metodologi yang rumit, “berbicaralah dengan mereka”, ketahui
keinginan mereka.
Mengetahui apa
yang diinginkan konsumen, menyiapkan produknya, dan memberikan produk tersebut
kepada mereka, itulah kunci sukses bisnis anda!
Sumber : Heppy Trenggono, Republika
Komentar
Posting Komentar