Langsung ke konten utama

Berbisnislah dengan bahagia, Hiduplah dengan serius

Suatu ketika ada yang bertanya kepada pak Heppy Trenggono begini, ..
"Pak, mengapa banyak pengusaha muslim yang berjatuhan??"
"karena mereka terlalu serius dalam berbisnis tetapi tidak serius dengan hidup" jawab beliau singkat

Pemimpin Gerakan Beli Indonesia
Heppy Trenggono

Dahi saya seketika mengernyit. Itu jawaban baru saya dengar kali ini setelah beberapa tahun mendampingi aktivitas beliau di Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) dan Gerakan Beli Indoensia.

Ternyata menurut beliau sebagai seorang pengusaha muslim dalam berbisnis punya aturan main sendiri. Riba ya jangan digunakan atau itu akan menjadi persoalan buat hidup maupun menjadi persoalan buat bisnis. Harta dan Rezeki juga sesuatu yang berbeda. Rezeki ada portalnya, mungkin kita dapat hartanya kalau rezekinya sempit akan selalu merasa kurang dan kurang.

"Kalau bisnis yang dipelajari hanya ilmu ekonomi saja maka itu tidak akan cukup, tetapi bisnis juga ilmu kehidupan".

Sudah tahu kan laporan ke-uangan? adakah pembukuan stok sabar? atau pembukuan stok berbaik hati, stok yakin? tetapi tanpa sabar, tanpa yakin bisnis tidak akan jalan. Atau memahami prilaku manusia dalam mengambil keputusan, apa itu keputusan membeli produk atau keputusan yang lain tidak semata urusan ekonomi, itulan ilmu kehidupan.

Jadi .... Nyatai Broo...
Karena untuk menjadi pengusaha muslim yang sukses selain ilmu yang dibutuhkan adalah hidayah. Ilmu ga cukup. Jangan lah mencari konsep sukses dari orang yang tidak beriman. Karena hanya akan memperparah keadaan. Bukankan Rasul sudah mewasiatkan 2 hal yang jika itu kita pegang maka kita akan sukses dunia dan akherat? dua hal itu adalah Alqur'an dan Sunnah.


Jadi bikin seneng, bikin bahagia, jangan serius-serius. Ada orang yang memandang bisnis ibarat perang, namun bagi beliau business just a game, permainan. Jangan sampai cuma mengejar kemenangan kecil dari sebuah game bernama bisnis rela melakukan apapun tetapi melupakan visi besar bahwa hidup sekarang adalah untuk kehidupan mendatang yang kekal dan abadi. Bukan berarti memenangkan bisnis juga tidak penting ya, tetapi menangkanlah dengan norma dan kaidah yang telah Allah SWT dan Rasul ajarkan. Makanya rumus sukses yang beliau ajarakan di IIBF adalah Sukses = Iman + Strategi.


"Kalau kamu melupakan akherat maka kamu akan kehilangan kesempatan untuk mengenal Tuhan mu, namun jika kamu tidak kaya, kamu kehilangan kesempatan untuk mengambil banyak tanggung jawab kehidupan" 
- Heppy Trenggono -

"Berbisnislah dengan bahagia, dan hiduplah secara serius"  itulah nasehat beliau. Hidup yang harus serius kalau tidak akan dikumpulkan dengan golongan fir'aun juga bersama penista alqur'an itu lho, ga mau to? Bisnis harus bahagia. Realita membangun sebuah usaha yang benar-benar menjadi mesin pencetak uang juga tidak mudah. Disisi lain berbagai persoalan hidup juga tidak akan pernah berhenti menghampiri, "sebesar" apapun usaha yang hari ini sedang kalian geluti persoalan dan kesulitan pasti akan datang menyapa. 

Apa iya mentang-mentang size bisnis sudah besar, sudah terlanjur terkenal, jadi bicara dimana-mana, lalu tertebas dari jeratan persoalan dan kesulitan?"

Sulit itu sudah menjadi bagian yang harus direspon. termasuk hal-hal yang tidak populer didalam bisnis, memecat karyawan atau bahwkan menutup usaha yang memang sudah tidak layak untuk dipertahankan. menurut saya lebih terhormat kita yang mengakhiri dari pada dia menutup dirinya sendiri dengan meninggalkan berbagai persoalan tak terkontrol pada akhirnya. pertanyaannya seberapa siap menghadapi ini? buat orang yang sudah merasa terkenal bisa jadi itu adalah momok, tidak keren, akhirnya dipertahankan dan menggerogoti apa yang sudah dibangun dan akhirnya ludes juga.

Persoalan dan Kesulitan akan selalu datang dan pergi. yang membedakan satu orang dengan orang yang lain, orang biasa dan orang yang besar adalah respon terhadap persoal dan kesulitan itu ketika datang menghampiri.

Semoga bisnis sahabat-sahabat pejuang sekalian terus bertumbuh dan menjadi alat dan mesin kebaikan, menjadikan bisnis sebagai penopang dakwah membangun diri, membangun keluarga, membangun bisnis, membangun agama dan bangsa dalam satu tarikan nafas.



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengungkap keinginan konsumen

Ibu Susi, seorang pengusaha di Tanjung Priok - Jakarta yang menekuni produksi sabun cair berbagai jenis menanyakan kepada saya apa strategi yang harus dilakukan agar produk – produkya laku di pasar, pasalnya usaha yang digelutinya selama ini tidak mengalami kemajuan yang berarti setelah beberapa tahun ditekuni. Saat ini beliau sedang menyiapkan produk baru dalam kemasan yang berbeda yaitu sabun cair kemasan 1 liter, pertanyaan beliau kepada saya “apakah langkah saya sudah tepat? Menurut pak Heppy apakah produk ini akan mampu meningkatkan omzet perusahaan saya secara significant?” Inovasi, seperti yang dilakukan oleh Ibu Susi adalah sebuah keniscayaan dalam bisnis, malahan kalau kita hendak menyederhanakan pemikiran, berbicara mengenai fungsi bisnis sebenarnya hanya ada 2 saja yaitu Inovasi dan Marketing. Inovasi harus selalu dilakukan karena pasar selalu bergerak, kompetisi selalu bergerak, dan keinginan konsumen juga selalu bergerak. Kalau Indofood, Wingsfood, Unilever, dan pe...

Bisnis Bukan Kontes Populatitas

Ilustrasi  B elakangan ini mindset orang memang sedang demam-demamnya sama yang namanya wirausaha. Bekerja pada sebuah perusahaan atau profesi tertentu bukan lagi cita-cita populer seperti dulu. Kesuksesan finansial yang bisa diperoleh, kebebasan waktu dan segudang hal lain yang bisa didapat dari membangun usaha sendiri telah membuat banyak orang lebih memilih dunia usaha. Kenyataannya tidak sedikit yang terjebak dengan pola pikir salah tentang menjadi pengusaha. Bermula dengan paradigma yang salah pada akhirnya gulung tikar, bangkrut atau bahkan terlilit hutang. Bayang-bayang keluangan waktu, kebebasan finansial jauh dari harapan.

Bisnis dengan modal 0

B erbicara tentang memulai bisnis, banyak orang langsung terhenti langkahnya karena merasa tidak memiliki modal untuk memulainya. “Saya sebenarnya ingin menjadi pebisnis, tapi saya tidak punya modal” begitulah kira – kira komentar dari rata – rata para pemula yang saya jumpai, dan modal yang dibicarakan disini maksudnya adalah uang cash yang dimiliki untuk memulai bisnis. Dalam konteks yang lain, sebuah angka statistik membuktikan bahwa 50% bisnis tutup sebelum ulang tahunnya yang kedua, 80% tutup sebelum ulang tahun yang kelima. Dan yang sangat menarik untuk dicermati, ternyata salah satu sebab mengapa mereka gulung tikar dalam usia yang sangat muda adalah “Easy Money”, uang dan kredit yang terlalu mudah didapat. Kok bisa begitu? Ternyata easy money membuat pebisnis menjadi bodoh. Dengan uang dan kredit yang mudah didapat mereka memiliki kesempatan yang sangat luas untuk menutupi kesalahan – kesalahan dalam berbisnis. Contohnya ketika sales tidak mencapai target, ketika piutang tid...