Langsung ke konten utama

Wadah dan Isi

Mengapa kualitas kehidupan seseorang berbeda satu sama lain? Lulusan dari universitas yang sama, dengan dosen yang sama,  buku yang sama, menghabiskan waktu yang sama, namun kualitas kehidupannya bisa berbeda sama sekali. Hanya sedikit dari mereka yang memiliki prestasi sangat menonjol, dengan kehidupan ekonomi yang sangat berlimpah, sebagian yang lain dalam taraf rata – rata dan beberapa diantara mereka hidup dalam kesusahan.

Hal yang dapat kita lihat dari masing – masing orang dengan kualitas kehidupan yang berbeda itu adalah perilaku mereka, tidak perduli apakah mereka dari tingkat pendidikan yang sama atau tidak kualitas kehidupan mereka sangat ditentukan oleh kualitas perilaku orang – perorang. Orang dengan perilaku berkualitas unggul akan memiliki kualitas kehidupan yang jauh lebih baik daripada yang lain.

Pertanyaannya adalah “mengapa perilaku seseorang berbeda satu dengan yang lain?”, “Bagaimana agar kita memiliki perilaku yang berkualitas?”

Perilaku adalah sesuatu yang bisa kita lihat, ada sesuatu yang tidak kita lihat yang menentukan perilaku seseorang, sesuatu yang tidak kita lihat itulah yang kita sebut sebagai context atau wadah. Wadah menentukan perilaku, perilaku menentukan isi.

Sebagaimana layaknya dengan wadah air, kalau wadah yang kita miliki adalah gelas maka maksimal air yang bisa kita tampung adalah sebanyak satu gelas, namun jika kita memiliki wadah sebesar ember maka air yang bisa kita miliki adalah sebesar ember. Gelas dan ember adalah wadah, sedangkan air adalah isi. Tanpa memperbesar wadah kita tidak dapat memiliki air yang lebih banyak.
Wadah dan isi berlaku dalam semua aspek kehidupan, apakah itu karier, kekayaan, perusahaan yang besar dan sukses, keluarga yang bahagia, maupun ketaatan kita kepada Allah swt.
Bagaimana memperbesar wadah?

 Faktor pertama adalah bagaimana anda mendefinisikan indentitas anda. Apakah anda member identitas anda sebagai orang sukses atau orang gagal, sebagai orang beriman atau keren, sebagai orang sholeh atau orang hebat, sebagai pemimpin atau bukan pemimpin. Apapun identitas anda yang anda lekatkan pada diri anda sendiri akan menentukan siapa diri anda. Kopi di dapur akan dituangkan ke wadah yang bertuliskan “Kopi” bukan wadah yang bertuliskan “Gula”, meskipun wadahnya sama dan serupa, hanya identitasnya yang berbeda. Intinya, identitas dulu baru isinya, bukan isi dulu baru identitas.

Faktor kedua adalah keyakinan, keyakinan seperti apa yang anda miliki, apakah anda yakin bahwa kualitas hidup ini hanya urusan takdir atau ada hal lain yang namanya usaha, apakah anda yakin bisa meraih sesuatu atau merasa tidak mungkin, apakah anda yakin bahwa tidak ada jalan lain kecuali dengan riba atau anda yakin justru riba yang akan menghancurkan anda, apakah anda yakin bahwa anda layak sukses atau anda yakin bahwa anda adalah orang gagal karena tidak pernah sukses. Semua keyakinan anda akan menentukan perilaku anda.

Faktor ketiga adalah nilai, nilai adalah sesuatu yang anda bela. Apakah kerukunan keluarga atau uang yang anda bela, apakah membela diri atau membela agama, apakah kenikmatan sesaat atau kesehatan yang anda bela, apakah tidur sampai siang atau ketaatan beribadah kepada Allah yang anda bela, apakah tabungan atau pendidikan anak yang anda bela, apa yang anda bela menentukan perilaku anda.

Faktor keempat adalah Ketrampilan, ketrampilan anda berbicara, berkomunikasi, ketrampilan mengendalikan emosi, ketrampilan melakukan segala sesuatu. Ketrampilan akan menentukan perilaku seseorang.


Identitas, keyakinan, Nilai, dan Ketrampilan adalah wadah yang dimiliki seseorang, dan wadah akan menentukan isi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengungkap keinginan konsumen

Ibu Susi, seorang pengusaha di Tanjung Priok - Jakarta yang menekuni produksi sabun cair berbagai jenis menanyakan kepada saya apa strategi yang harus dilakukan agar produk – produkya laku di pasar, pasalnya usaha yang digelutinya selama ini tidak mengalami kemajuan yang berarti setelah beberapa tahun ditekuni. Saat ini beliau sedang menyiapkan produk baru dalam kemasan yang berbeda yaitu sabun cair kemasan 1 liter, pertanyaan beliau kepada saya “apakah langkah saya sudah tepat? Menurut pak Heppy apakah produk ini akan mampu meningkatkan omzet perusahaan saya secara significant?” Inovasi, seperti yang dilakukan oleh Ibu Susi adalah sebuah keniscayaan dalam bisnis, malahan kalau kita hendak menyederhanakan pemikiran, berbicara mengenai fungsi bisnis sebenarnya hanya ada 2 saja yaitu Inovasi dan Marketing. Inovasi harus selalu dilakukan karena pasar selalu bergerak, kompetisi selalu bergerak, dan keinginan konsumen juga selalu bergerak. Kalau Indofood, Wingsfood, Unilever, dan pe...

Bisnis Bukan Kontes Populatitas

Ilustrasi  B elakangan ini mindset orang memang sedang demam-demamnya sama yang namanya wirausaha. Bekerja pada sebuah perusahaan atau profesi tertentu bukan lagi cita-cita populer seperti dulu. Kesuksesan finansial yang bisa diperoleh, kebebasan waktu dan segudang hal lain yang bisa didapat dari membangun usaha sendiri telah membuat banyak orang lebih memilih dunia usaha. Kenyataannya tidak sedikit yang terjebak dengan pola pikir salah tentang menjadi pengusaha. Bermula dengan paradigma yang salah pada akhirnya gulung tikar, bangkrut atau bahkan terlilit hutang. Bayang-bayang keluangan waktu, kebebasan finansial jauh dari harapan.

Bisnis dengan modal 0

B erbicara tentang memulai bisnis, banyak orang langsung terhenti langkahnya karena merasa tidak memiliki modal untuk memulainya. “Saya sebenarnya ingin menjadi pebisnis, tapi saya tidak punya modal” begitulah kira – kira komentar dari rata – rata para pemula yang saya jumpai, dan modal yang dibicarakan disini maksudnya adalah uang cash yang dimiliki untuk memulai bisnis. Dalam konteks yang lain, sebuah angka statistik membuktikan bahwa 50% bisnis tutup sebelum ulang tahunnya yang kedua, 80% tutup sebelum ulang tahun yang kelima. Dan yang sangat menarik untuk dicermati, ternyata salah satu sebab mengapa mereka gulung tikar dalam usia yang sangat muda adalah “Easy Money”, uang dan kredit yang terlalu mudah didapat. Kok bisa begitu? Ternyata easy money membuat pebisnis menjadi bodoh. Dengan uang dan kredit yang mudah didapat mereka memiliki kesempatan yang sangat luas untuk menutupi kesalahan – kesalahan dalam berbisnis. Contohnya ketika sales tidak mencapai target, ketika piutang tid...